Showing posts with label thinking. Show all posts
Showing posts with label thinking. Show all posts

01 October 2011

Interpretasi Pesan Singkat

Hmmm. Pikiran saya terusik ketika seorang teman dekat mengirimkan pesan singkat kepada saya yang kurang lebih demikian: "Kalau mau tegur gw, jangan lewat sms ya langsung ketemu aja. Gw terlalu banyak interpretasi kalo baca sms." Saya tertegun untuk beberapa saat. Padahal pesan singkat yang saya kirimkan sebelum-sebelumnya untuk dia bukanlah pesan yang saya tuliskan dengan maksud menegur melainkan meluruskan permasalahan yang terjadi. Dan di hari yang sama, orang tua saya mempermasalahkan pesan singkat yang diterima dari supir dimana kedua orang tua saya memiliki interpretasi yang berbeda dari pesan singkat tersebut.

Ini bukan pertama kalinya pikiran saya terusik dengan urusan pesan singkat (SMS). Saya sempat menarik kesimpulan bahwa mood/kondisi hati seseorang mempengaruhi kemampuan interpretasinya saat membaca sebuah pesan singkat. Darimana saya mendapatkan kesimpulan tersebut? Hmmm, berdasarkan pengalaman saja. Saya pribadi seringkali dibuat cenat-cenut dengan persoalan interpretasi pesan singkat. Ketika saya merasa biasa saja saat menulis dan mengirimkannya, sang penerima tiba-tiba membalas pesan singkat dengan interpretasi yang beranggapan saya marah/kesal padanya. Ketika saya mencoba memberikan klarifikasi dan berhati-hati menuliskan pesan singkat, balasan diatas yang saya terima. Saya coba membaca berulang kali pesan singkat yang saya tuliskan. Saya membacanya dengan berbagai intonasi suara yang berbeda. Dan memang jika dibaca dengan pikiran/perasaan yang negatif yang tertangkap oleh pikiran adalah pesan yang negatif juga. Aha! Ini dia yang sering terjadi ketika seseorang menerima pesan singkat dan membacanya: membaca dengan 'suara'. Membaca dengan suara yang benar-benar suara (yang berintonasi) ataupun membaca dalam diam dengan membiarkan pikiran kita membacanya, seakan pikiran kita menyuarakan pesan singkat tersebut.

Sungguh fenomena ini membuat saya terheran-heran. Bagaimana bisa satu pesan singkat dapat memiliki kekuatan memainkan pikiran dan perasaan seseorang yang membacanya. Jika dipikir lebih lanjut, nampaknya bukan pesan singkat yang memiliki kekuatan tersebut, tapi kekuatan pikiran manusia. Proses interpretasi yang dialami dan dimiliki setiap orang pasti berbeda-beda. Pengalaman dan pengetahuan serta keterlibatan perasaan saya rasa menjadi komponen-komponen penting dalam proses interpretasi (dalam hal ini: membaca sms). Tak heran jika miskom/salah pengertian/salah paham sering terjadi hanya karena keunikan interpretasi dari setiap orang yang berbeda-beda.

Kembali pada topik membaca pesan singkat, saya teringat sebuah iklan handphone yang dapat membaca sms dengan suara. Hal yang unik. Jika semua orang memakai handphone tersebut, pastinya interpretasi akan setiap pesan singkat yang 'dibacakan' oleh handphone smart tersebut akan sama. Sama dalam artian tidak akan ada 'suara' yang berbeda ketika membaca pesan singkat. Mengapa? Karena mesin akan menyuarakan pesan singkat yang kita peroleh dengan suara yang tidak memiliki emosi/perasaan. Hmmm. Nampaknya dapat mereduksi kejadian miskom/salah pengertian/salah paham atau salah tafsir pesan singkat jika semua orang menggunakan handphone tersebut.

Saya termasuk tipikal orang yang sangat mudah terganggu dengan interpretasi pesan singkat yang saya terima dan saya baca. Tak jarang hal tersebut mempengaruhi emosi saya, entahlah saya merasa kesal/marah/senang/bingung/gelisah/dan sejuta perasaan lainnya. Emosi jelas memiliki pengaruh ketika menulis/membaca pesan singkat, namun hal tersebut nampaknya tidak selalu terjadi pada setiap orang dan setiap pesan yang ditulis dan dikirim. Sebagian orang bisa saja cuek bebek menanggapi pesan yang mungkin memiliki kandungan emosi di dalamnya. Sebagian lagi bisa saja gelisah ataupun senang menerima pesan yang memiliki kandungan emosi di dalamnya. Sebagian lagi bisa saja gelisah atau bingung ketika menerima jawaban yang terlalu singkat atau sebagian lagi merasa kesal ketika menerima pesan yang panjang lebar. Atau ada saja yang merasa sebal menerima pesan singkat dengan kombinasi huruf dan angka yang menyulitkan pembacanya menginterpretasikan pesan tersebut. Hahahaha. *no offense*

Interpretasi.. pesan singkat..
Emosi dan intonasi..
Hmmm..
Tak bisa dipungkiri, meski sekarang sudah serba canggih dengan adanya kemajuan teknologi..
Kesalahpahaman tetap dapat terjadi karena teknologi sering kali kalah dengan pikiran dan hati..

Seperti saya malam ini, saya sedang khawatir dan gelisah dengan jawaban singkat dari pesan singkat yang saya kirimkan. Lucu. Karena mungkin yang mengirimkannya merasa biasa saja dan berpikir saya terlalu berlebihan menanggapi balasan/responnya.


07 July 2011

racauan kacau

Tiba-tiba terlintas lagi konsep "cinta butuh pengorbanan" sudah dua kali sih menulis soal itu, Cinta Butuh Pengorbanan dan Cinta Butuh Pengorbanan (tapi sampai mana?). Tiba-tiba terlintas lagi soal itu, sebenarnya bukan soal itu lagi sih, tapi soal cinta. Saya jadi bingung. Memang kalau saling mencintai itu harus selalu bersama ya? Kalau cinta harus selalu bersama, berarti tidak ada dong konsep "cinta tidak harus memiliki"? Yah, kalau menurut Plato sih, tidak mungkin ada manusia yang tidak ingin bersama dengan orang yang dicintainya. Soal cinta menurut Plato nanti akan saya bahas lebih lanjut di post-post berikutnya deh, tidak sekarang. Hmmm. Saya jadi kepikiran, pintar teori soal cinta apa jaminannya dalam suatu hubungan cinta? Saya merasa belum pintar teori juga soal cinta, memang kaya apa juga teori soal cinta. Hmmm, palingan juga cuma baca-baca konsep cinta dari sudut pandang filsafat. Membantu sih. Jadi bisa lebih kritis melihat problematika cinta. Kalau soal ke depannya gimana pas sudah berelasi dalam suatu hubungan cinta, wah saya tidak tahu deh apakah pengetahuan itu berguna. Hahahaha. Tapi sejauh ini sih, mind-set sudah jauh lebih baik tentang cinta yang nanti mungkin akan saya alami. Entah kapan. Tapi sejauh ini, masih menikmati cinta platonis saja. :)

Perempuan jadi korban, masih perlu dipertanyakan?

Benar-benar tidak habis pikir. Kenapa ya perempuan itu kalau jadi korban malah mendapat diskriminasi? Seakan kalau ada kasus pelecehan yang menimpa perempuan, yang salah itu perempuannya, bukan pihak yang melakukan pelecehan. Ketika perempuan menjadi korban, yang muncul bukannya pembelaan sepenuhnya dari khalayak umum, tetapi justru pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dan menyalahkan. Seperti kasus yang menimpa vokalis perempuan sebuah band di negeri ini, dia diculik di pagi buta oleh tiga pria mabuk dan disekap di dalam mobil selama satu jam serta mengalami pelecehan seksual. Miris saya mendengar pemberitaan media tadi sore yang justru melontarkan pertanyaan yang menyudutkan si vokalis, seperti, "Apa yang dilakukan dia di pagi buta dan sendirian?" ; "Apakah dia berada dalam kondisi mabuk?" ; "Mengapa dia tidak membawa mobil atau memanggil taksi sendiri?. AYOLAH! Itu bukan pertanyaan berarti yang mendukung kondisi moril si korban!

28 May 2011

curcol singkat

Topik miniskripsi saya soal cinta, ho oh cinta, silakan deh ketawa. Sudah banyak yang mentertawakan saya karena saya nulis soal cinta. Banyak juga yang geleng-geleng kepala ketika tahu saya nulis soal cinta pada pasangan yang berbeda keyakinan/agama. Kenapa saya nulis soal itu? Karena saya tertarik. Kenapa ya nggak ada kelas filsafat cinta? Kan bagus tuh kalau diadakan, biar ada kesan baru buat departemen filsafat, ga melulu berat topiknya, tapi juga bisa mellow. Eaaak. Bukan bisa mellow, tapi juga bisa membahas pandangan filosofis pada sesuatu yang dekat dengan keseharian manusia, cinta.

Isi miniskripsi saya apa sih? Tidak mau saya buka di sini sampai saya sendiri memutuskan untuk menuliskannya di sini. Senang sekaligus prihatin mengetahui berbagai respon dari topik miniskripsi saya. Well, subjektivitas itu memperkaya diri (saya). Yang pasti, karena topik ini dan respon yang saya peroleh, saya jadi semakin tahu dan yakin, bahwa iman memang sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat ketika seseorang memutuskan untuk ber-Tuhan. Namun di sisi lain, ketika saya memperoleh respon yang negatif, saya jadi berpikir, kemana rasio ketika iman menjadi landasan? Mengapa iman yang dijadikan landasan terkesan mengekang rasio?

Saya orang beriman, saya juga orang berasio, saya (selalu) berusaha (untuk) seimbang.

09 April 2011

Kajian (ala kadarnya) tentang Pendidikan dan Etika

“Education is a social process. Education is growth. Education is, not a preparation for life; education is life itself.”

- John Dewey

Pendidikan merupakan bagian dari diri manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Manusia yang terus menerus mengalami proses becoming memerlukan pendidikan dalam menjalani kehidupannya sebagai being yang memiliki kesadaran. Komponen-komponen seperti content of value, channel, direction, dan media merupakan komponen penting dalam kehidupan seorang individu manusia. Semua komponen tersebut dapat diperoleh manusia di dalam pendidikan. Baik melalui pendidikan secara formal, informal, dan juga non-formal. Unsur terpenting dari pendidikan itu sendiri adalah individu (being with consciousness) itu sendiri, yang menjalani kehidupannya.


Disadari atau tidak oleh seorang individu, pendidikan telah menjadi way of living bagi seluruh umat manusia dalam dunia ini. Pendidikan yang dimaksud dapat diperoleh melalui pendidikan secara formal, yaitu melalui institusi pendidikan, ataupun melalui kehidupan keseharian. Pendidikan, yang diperoleh individu melalui cara apapun, telah membantu manusia untuk menjalani kehidupan dengan lebih terencana. Karena seorang individu pastinya memiliki goal yang ingin dicapai di dalam kehidupan. Dan dapat dikatakan, pendidikan merupakan alat bantu bagi setiap individu untuk mencapai goal yang menjadi tujuan dalam hidup. Pendidikan sendiri berkaitan erat dengan konsep manusia yang terus-menerus berproses, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pendidikan juga terus berproses dan pendidikan juga membantu individu untuk berproses.


Lalu apa kaitan pendidikan dengan etika? Term ‘etika’ dalam pendidikan tidak dapat terlepas dari aspek axiologi dalam pendidikan. Aspek axiologi yang terdiri dari etika, estetika, dan logika merupakan faktor pendukung yang cukup besar dalam pendidikan. Keterkaitan antara satu term dengan term lainnya menunjang proses pendidikan. Jika ada salah satu aspek yang terlupakan maka tidak dapat dipungkiri proses pendidikan dalam kehidupan seorang individu kurang maksimal. Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan pandangan atau opini pribadi tentang pendidikan dalam kaitannya dengan etika.


Kaitan antara etika dan pendidikan


Apa itu etika? Etika merupakan salah satu cabang filsafat yang mendasarkan pemikiran kritis pada ajaran dan pandangan moral dalam kehidupan manusia.[1] Etika merupakan ilmu yang mempelajari pemahaman di balik tindakan moral yang dilakukan oleh manusia. Etika secara garis besar mengajarkan kepada individu tentang perbuatan atau tingkah laku etis manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia lainnya di dalam suatu komunitas ataupun sebagai makhluk berakal budi yang memiliki tujuan dalam hidupnya. Hal tersebut dapat dimengerti dalam bagaimana seorang individu dapat berpikir dan mengetahui tentang mana hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk.


Lalu apa kaitan pendidikan dengan etika? Kaitan pendidikan dengan etika tidak terlepas dari kata moral (dalam hubungannya juga dengan term “baik” dan “buruk”) dalam individu manusia. Manusia sebagai makhluk sosial, memiliki nilai-nilai moral yang tertanam dalam diri sejak kecil, yang tentunya diperoleh dari proses interaksi dalam masyarakat lingkup yang terkecil, yaitu, keluarga. Nilai-nilai moral yang diperkenalkan orang tua kepada anaknya sejak kecil merupakan pendidikan awal tentang nilai-nilai moral yang diterima oleh seorang individu tanpa harus terlebih dahulu memasuki institusi pendidikan (dalam hal ini dapat berlaku prinsip Education = Life). Sebagai contoh, sejak kecil Metha diajarkan oleh orang tuanya untuk tidak mengambil apapun yang bukan miliknya, karena hal tersebut bukanlah hal yang baik, itu dinamakan mencuri.


Apakah selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Manusia yang telah diperkenalkan tentang nilai-nilai moral sederhana dalam institusi keluarga akan mengalami perkembangan mengenai etika di dalam institusi pendidikan secara formal. Dalam hal ini, peranan logika sangat berkaitan erat dengan peranan etika dalam kehidupan manusia. Institusi pendidikana kan memacu kognitif individu manusia untuk memiliki keteraturan berpikir dan mengenal beberapa prinsip-prinsip ilmu pengetahuan melalui pelajaran-pelajaran yang diberikan dengan kurikulum yang telah ditetapkan dan diterapkan. Kognitif berkaitan dengan pemikiran dan juga logika, maka seseorang yang kognitifnya terasah akan memiliki kemampuan berpikir yang berjalan sesuai dengan logikanya atau budinya. Dengan demikian, individu manusia yang terasah kemampuan kognitifnya akan memiliki pikiran yang berjalan dan memiliki kemampuan untuk berpikir tentang yang baik dan yang buruk dalam kesehariannya.


Dengan demikian dapat dilihat peranan pendidikan dalam kaitannya dengan etika. Pengasahan kemampuan kognitif, psikomotorik serta afektif dalam institusi pendidikan dapat membentuk individu yang menyadari nilai-nilai moral dalam kehidupannya, serta mengerti mana hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk. Pendidikan yang mengasah kemampuan kognitif individu manusia juga akan mengubah perbuatan/tingkah laku/perbuatan seorang individu manusia, Mengapa demikian? Kembali lagi karena telah memiliki kemampuan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.


Kesimpulan


Pendidikan merupakan suatu yang memang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia yang terus berproses. Melalui pendidikan, baik dalam arti luas ataupun arti sempit, seorang individu dibentuk dan terbentuk menjadi pribadi yang memilki kemampuan kognitif, psikomotorik serta afektif yang terasah. Dalam hal ini, kemampuan kognitif yang terasah yang dipadukan dengan kemampuan afektif serta relasi dengan individu maunsia lainnya dalam institisi pendidikan akan membuat seorang individu manusia mengetauhi tentang hal yang baik dan hal yang buruk. Tentu saja hal dua tersebut sangat memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia, terkhusus dalam proses pencapaian tujuan hidup yang ingin dicapai. Maka dari itu, sangat penting bagi seorang individu untuk dapat memahami serta membedakan tentang hal yang baik dan buruk, dan mana diantara dua hal tersebut yang mendukung atau justru mengganggu proses pencapaian tujuan hidup yang ingin dicapainya.



[1] Magnis-Suseno, Franz. 1987. Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.


18 March 2011

Cinta Butuh Pengorbanan (tapi sampai mana?)

Sungguh suatu hal yang biasa didengar dalam keseharian kita bukan? Konsep “Cinta butuh pengorbanan” sungguh tidak asing bagi orang-orang yang berada didalam sebuah hubungan relasi cinta. Ketika kita bersatu di dalam hubungan yang dilandasi oleh cinta, maka kita terikat di dalam komitmen dan seringkali kita harus mengorbankan beberapa hal dari diri kita untuk cinta (red: pasangan).


Sejenak saya merenungkan konsep tersebut sebelum memulai aktivitas mandi di kamar mandi kamar kos saya. Kenapa ya, konsep “Cinta butuh pengorbanan” seakan menjadi sebuah hal yang lumrah dalam hubungan relasi cinta? Bahkan dapat dikatakan menjadi suatu tuntutan yang harus dipenuhi. Ups. Tuntutan? Kenapa tiba-tiba ada term ‘tuntutan’? Tanpa sadar, dengan landasan “Cinta butuh pengorbanan” kita berubah menjadi ‘penuntut’ yang harus dipenuhi keinginannya dengan alasan “Cinta butuh pengorbanan”. Iya atau tidak? Terserah anda.


Memang apa saja yang harus dikorbankan dalam cinta? Hmmm. Mengorbankan waktu, uang, perasaan, pemikiran, bensin, apa lagi? Banyak lagi pastinya yang mungkin bisa anda jawab sendiri. Kembali lagi ke perenungan singkat saya soal “Cinta butuh pengorbanan”, saya bertanya-tanya dengan pikiran saya, kenapa cinta membutuhkan pengorbanan? Dan yang paling membuat saya tak habis pikir lagi, sampai kapan cinta membutuhkan pengorbanan?


Gelas dan Air


Hmmm, kenapa tiba-tiba berpikiran sampai ke sana? Entahlah, muncul begitu saja dalam angan. Saya menganalogikannya dengan gelas kosong dan sebuah teko berisi air. Ketika kita haus kita pastinya akan minum, minum apa? Minum air. Dengan apa? Dengan gelas tentunya (kecuali anda memiliki kebiasaan minum langsung dari teko). Anda pastinya akan mengisi gelas itu sampai penuh atau sampai pada batasan anda merasa cukup isi gelas tersebut untuk anda minum. Lalu anda akan meminum air dari gelas tersebut untuk melepaskan rasa dahaga yang menyerang tenggorokan anda.


Nah, sekarang anda tentu menyadari, bahwa anda mengisi gelas kosong dengan air sampai batas gelas tersebut penuh, kecuali anda iseng ingin membuat becek sekitar maka anda mengisinya hingga luber. Kenapa anda berhenti menuangkan air ke dalam gelas ketika air dalam gelas tersebut penuh? Karena anda tahu, gelas tersebut tidak lagi bisa menampung air, karena jika anda terus menuangkan air, maka yang ada air tersebut akan tumpah karena gelas tidak mampu lagi menampungnya. Gelas tersebut telah mencapai tahap ‘kepenuhan’ atau ‘pemenuhan’ daya tampungnya atau dapat dikatakan kemampuannya untuk menampung air. Anda melihat jelas batas dimana gelas tersebut akan mencapi ‘kepenuhan’ akan daya tampungnya terhadap air.


Sekarang, mari kita analogikan gelas dan air itu dengan cinta dan pengorbanan. Nah! Menangkap maksud saya? Kita umpamakan gelas itu adalah cinta, dan air itu adalah pengorbanan. Seharusnya, jika dengan analogi gelas dan air sebelumnya, kita pasti akan berhenti ketika gelas itu hampir penuh dengan air atau bahkan sudah penuh dengan air. Namun bagaimana halnya dengan cinta?


Jika merujuk pada pengalaman cinta beberapa orang teman, nampaknya gelas cinta tersebut tidak akan pernah berhenti diisi oleh air pengorbanan. Dalam situasi normal, dapat dikatakan, akan mengalami proses luber! Karena nampaknya tidak ada batas dimana pengorbanan untuk cinta itu harus berhenti. Terus dan terus saja ada yang harus dikorbankan untuk cinta, terus dan terus air dituangkan ke dalam gelas sehingga luber dan menjadi becek dimana-mana.


B A T A S


Kenapa ada term ‘batas’ ya? Ya, jika mungkin bagi beberapa orang tidak ada permasalahan dengan batasan mencintai, ya silakan. Tidak ada yang melarang. Dan kenapa tiba-tiba ada term ‘batas’ dalam cinta? Ya, itu berangkat dari rasa ingin tahu dan penasaran saya. Kenapa pengorbanan untuk cinta tiada habisnya, memangnya manusia tidak memiliki keterbatasan untuk mengorbankan apapun dalam hidupnya (hanya) demi cinta? Manusia memiliki keterbatasan, namun hal tersebut nampaknya tidak menjadi penghalang untuk mengorbankan apapun demi cinta. Jadi pengorbanan dalam cinta memang tidak memiliki batasan dong? Saya juga masih harus berkontemplasi dan berdiskusi untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan tersebut.


Jika merujuk pada ketidaksempurnaan manusia, maka pastinya akan ada konsep keterbatasan. Untuk saat ini, bisa saja dikatakan bahwa batasan pengorbanan untuk cinta adalah keterbatasan dari manusia itu sendiri. Mungkin ada beberapa hal yang tidak dapat dikorbankan untuk cinta karena keterbatasan diri manusia itu sendiri. Namun nampaknya melihat konsep cinta di dunia saat ini, semua orang yang dimabuk cinta nampaknya akan mengorbankan nyawa sekalipun untuk cinta.


Akhir Kata Semua Kembali Kepada Kita


Jadi apa batasan bagi seseorang untuk berhenti mengisi gelas cinta dengan air pengorbanan? Nampaknya tidak ada batasan untuk hal tersebut, selain dari diri manusia itu sendiri. Yang memungkinkan saat ini untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah batasan yang diciptakan manusia itu sendiri. Kecukupan atau kepenuhan gelas cinta akan air pengorbanan tersebut hanya akan disadari oleh manusia itu sendiri. Manusia yang penuh dengan keterbatasan menciptakan sendiri batasan dalam hal cinta. Dan hal tersebut terkadang dapat menjadi sesuatu yang sulit atau terkadang mudah bagi setiap individu. Akhirnya segala sesuatunya akan kembali kepada individu masing-masing. Akhir kata semua kembali kepada, kita.


20 January 2011

Salah (si)apa?

Halo. *lambaikan tangan*

Anda beragama?

Anda percaya pada Tuhan?

Membaca kembali catatan kuliah Eksistensialisme yang saya ikuti di semester tiga. Saat itu filsuf eksistensialisme yang dibahas adalah Martin Buber, seorang filsuf yang mengkritik ritual-ritual keagamaan yang bersifat fisik. Dan saya merenung saat membaca catatan yang saya tulis,

Relasi Eternal Thou adalah relasi yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Tanpa berdoa, beribadah, tapi saat melihat kekerasan terjadi, langsung menolong yang tertndas/teraniaya tersebut. Karena menurut Buber, untuk apa seorang manusia terus menyebut kata ‘Tuhan’ tapi mengkhianati relasi dengan sesama manusia.

Untuk apa berdoa, tapi tidak perduli dengan nilai-nilai kemanusiaan?

Tuhan seperti apa yang anda percayai? Dan mengapa anda percaya pada Tuhan? Karena ajaran agama yang diturunkan oleh orang tua? Atau karena memang anda sejak lahir mengenal konsep Tuhan begitu saja? Hebat kalau sampai begitu. *tepuk tangan*

Ya, kita tahu bahwa agama menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dan Tuhan menjadi sosok fenomenal yang memiliki peranan tersendiri bagi setiap manusia di dunia ini. Pemeluk agama memiliki sosok Tuhan yang dipercayai dan diimaninya. Saya salah satunya, mungkin anda juga. Dan masih banyak orang di luar dunia maya ini yang meyakini Tuhan dalam kehidupan mereka.

Hanya saja saat ini saya sampai pada satu titik jenuh akan agama. Jenuh melihat aksi kekerasan di balik institusi agama. Jenuh melihat orang-orang (yang mengaku) beragama tetapi melakukan hal-hal yang imoral. Jenuh melihat kesombongan atas agama yang dianut.

Bingung dan tidak mengerti, Tuhan seperti apa yang dipercaya dan ajaran agama apa yang diterima. Saya tidak menyalahkan Tuhan-nya juga agama-nya. Karena memang Tuhan dan agamanya (nampaknya) tidak dapat dipersalahkan. Yang patut dipertanyakan adalah pola pikir dan sudut pandang orang-orang tersebut. Melakukan ritual keagamaan, namun menyakiti (baik secara verbal ataupun fisik) sesamanya manusia hanya karena perbedaan pandangan.

Tidak heran jika banyak orang yang memilih untuk tidak menjadi manusia dengan nilai-nilai religius dalam diri. Bahkan cenderung tidak peduli dengan Tuhan dan agama. Sempat terlintas, mungkin jika manusia tidak mengenal konsep Tuhan dan agama, tidak akan ada perbedaan dan keributan ataupun kekacauan di dunia. Tidak perlu ada perbedaan sudut pandang yang akhirnya saling menjatuhkan karena ingin mengklaim kebenaran absolut. Karena kalau dipikir lagi, apa sumber konflik? Perbedaan. (berbeda Tuhan, berbeda agama juga termasuk pemicu terjadinya konflik bukan?)

Ironis.

Perbedaan dapat menjadi pelengkap.

Namun di saat bersamaan juga bisa menjadi sumber konflik.

Dan siapa yang ada di belakang ini semua? Mungkin causa prima dibalik ini semua sedang tersenyum. Mungkin saat ini Tuhan saya, Tuhan anda, Tuhan agama lain sedang duduk bersama dan saling bercengkerama satu dengan yang lain. Mungkin mereka tertawa melihat manusia di dunia yang beragama saling berebut klaim kebenaran. Mungkin juga mereka saling mengasihani satu sama lain, mungkin mereka saling minta maaf atas kelakuan umat mereka.

Andaikan tidak ada agama.

Andaikan saya dan anda tidak mengenal Tuhan yang berbeda.

Andaikan tidak perlu ada beragam kitab suci.

Stop.

Semua tidak mungkin.

Karena agama ada, Tuhan (di berbagai agama) ada, dan kitab suci ada.

Dan (sayangnya) manusia yang menganggap diri dan agamanya paling benar juga ada.

Jadi,

Salah siapa?

Tuhan? Agama? Kitab suci? Atau ketiganya?

Bukan.

Bukan salah mereka.

Lalu?

Salah manusia yang menginterpretasikan mereka dengan pengertian yang salah dan jadinya menimbulkan masalah.

21 December 2010

penolakan.

"I'm not good enough for you"
Irfan melontarkan kalimat tersebut pada kekasihnya. Sudah hampir satu tahun dia menjalin hubungan dengan Jennifer, namun karena merasa tidak lagi cocok ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Nah, tanpa sengaja saya kembali bertemu dengan Irfan. Dan dia pun kembali curcol sama saya soal hubungannya dengan si Jennifer.


Kenapa deh kalimat mutusinnya kaya gitu? Irfan bilang, dia nggak mau nyakitin perasaan Jennifer. Makanya dia berusaha memutuskan Jennifer dengan cara halus.

Hmm *angguk-angguk*
"Kenapa bell? Salah ya? Habis gimana dong? Gw ngomong gitu aja dia udah nangis-nangis ga mau diputusin."
Yah, bukan salah atau benar sih. Gw kepikiran konsep penolakan aja sih tiba-tiba. Kalau kita nolak sesuatu, orang yang kita tolak bakal ngerasa sedih atau senang? Terlebih dalam hubungan (cinta).


Misal, waktu itu si A suka banget sama si B. Tapi si B nggak ada rasa sama sekali untuk si A. Nah, pas si A nembak si B, si B menolak dengan halus permintaan si A untuk menjadikan dirinya sebagai kekasih. Menurut loe, meski si B menolak dengan halus 'tembakan' si A, apa si A nggak bakal sakit hati?

Sempat terpikir mengenai konsep penolakan. Bukankah kata penolakan atau tolak itu sendiri sudah memiliki muatan negatif ya? Jadi bagaimana bisa ada konsep penolakan secara halus? Mau halus atau keras, pastinya orang yang mengalami penolakan akan merasakan sakit hati bukan?

Sekarang loe mutusin si Jennifer dengan kalimat,"I'm not good enough for you". Kenapa loe bilang begitu ke dia setelah satu tahun pacaran? Loe baru sadar, kalo loe nggak cukup baik buat jadi pendamping dia?
"Hmm. Bisa dibilang begitu sih bell. Lagian, gw nggak mau nyakitin perasaan dia juga gitu."
Mau kata loe bilang ke dia kaya gitu. Di mata dia, loe terlihat cukup baik aja loh menurut gw. Kenapa? Soalnya loe pacarnya! Kalian terikat dalam satu relasi cinta dikarenakan kalian merasakan hal yang sama, yaitu, cinta. Saat dia menerima cinta loe, dan loe menerima cinta dia, maka dapat dikatakan kalian berdua menerima satu sama lain. Ketidakcocokan yang ada seharusnya tidak menjadi kendala, karena kalian telah satu sama lain menerima perasaan cinta kalian masing-masing.


Dia nangis kan waktu loe putusin kaya gitu? Yah, karena mungkin dia nggak mau kehilangan loe, dan mungkin juga dia merasa loe sudah cukup baik buat dia. Inget lagi konsep penolakan, mana ada sih nolak tapi nggak bikin sakit hati?
"Jadi mending gimana dong bell? Emang sih dia minta gw berpikir lagi sebelum ambil keputusan final soal hubungan kita."
Well, loe mutusin dia secara halus tanpa kasih alasan yang jelas kan buat dia? Daripada begitu, mending loe putusin dia dengan kasih juga alasan yang jelas, biar clear jadinya. Toh, sama-sama bakal ngerasa sakit hati juga kan dia?


Tapi bukan berarti cinta itu menyetujui konsep sado-masokis ya. Tapi memang cinta itu mengandung banyak ekspresi yang kadang sulit sendiri kita deskripsikan (menurut gw looh). Loe bilang diri loe nggak cukup baik fan buat si Jennifer, apa dia juga ngeliat itu demikian?
"Hmm, nggak tau juga sih bell. Tapi kalo liat dia nangis-nangis gitu pas gw putusin. Berarti gw emang sangat penting dong ya buat dia? Ah, tapi dia kan matre bell!"
Duh, Irfan, mending emang loe putus aja deh kalo menurut gw. Soalnya susah juga nih kalo loe sendiri udah nggak suka sama salah satu sifat dia. Cinta itu menerima apa adanya loh fan. Loe cinta dia karena memang 'cinta' atau karena apa sih emangnya? Sampe sifat matre dia itu bikin loe eneg banget kayanya. Emang sih bakal menguras dompet loe juga kalo begitu.


Gw jadi mempertanyakan konsep cinta bagi loe. Apakah keberadaan si Jennifer ini adalah alasan buat loe terus mengada dalam ruang dan waktu? Apakah dia pelengkap keberadaan loe di dunia ini? Jawabannya sih ada pada loe fan. Gw sendiri juga masih mencari-cari makna cinta buat diri gw. Dan memang lagi tertarik banget mengkaji cinta.
"Hoo begitu. So gimana nih bell? What should i do?"
Jujurlah. Mau apa lagi?

Loe sudah lama tidak jujur dengan perasaan loe ke dia. Loe nggak suka sifat matre dia, tapi loe diem aja. So, sekarang, kalau mau mutusin dia, yah berikan juga alasan yang jujur bukan gantung dan ga jelas.

Duh, fan. Sorry banget nih, gw kurang mempersiapkan diri dengan bahan-bahan mengenai cinta menurut pandanga filsuf-filsuf. Jadinya jawaban konsultasi gw agak dangkal. Hanya hasil berpikir gw doang waktu lagi dapet inspirasi di kamar mandi.
"Oh, nggak apa-apa bell. Gw malah dapet pencerahan juga kok diskusi sama loe."
Jadi loe mutusin si Jennifer?

"Ntar gw pikir-pikir lagi deh bell. Gw belum siap kalo harus jujur soal alasan mutusin dia."
Lah begimane deh?! Ntar dompet loe jebol loh!

"Gw belum siap bell, nyakitin perasaan dia.."
Errrr. Kalo kata Oscar Wilde nih, "The heart was made to be broken."

Jadi siap-nggak-siap, itu tergantung sama kita-nya, karena hati kita memang dibentuk untuk mengalami situasi apapun dan seperti apapun. #ngalorngidul

Udah dulu ya fan, gw lagi random banget nih.
Hati gw berasa habis kena bazooka.
Bolong, kosong, melompong.
Mau nge-galau dulu deh.
Gw doakan yang terbaik deh buat loe dan si Jennifer!

20 December 2010

cinta permukaan

"Aku rasa kita sudah nggak cocok lagi deh."
Kalimat di atas adalah kalimat yang dilontarkan Irfan kepada Jennifer setelah mereka berpacaran selama satu tahun. Sudah satu tahun berlalu, Irfan baru ngomong begitu sama si Jennifer. Lah emang kemana aja sampai baru bisa ngomong kaya gitu setelah satu tahun dalam masa pacaran berlalu? *lirik Irfan*
"Habis gimana dong?! Gw baru ngerasa kita nggak cocok satu sama lain! Dia nggak seperti yang gw harapkan pas masa pedekate dulu."
Begitu curcol Irfan pas ditanya kenapa baru mutusin pas udah jalan setahun. Hadeh, ini nih yang harus diwaspadai. Mencintai seseorang tidak berdasarkan pada kenyataan yang ada. Kenapa sih loe dulu jatuh cinta sama Jennifer?
"Di mata gue, Jennifer itu cantik banget. Dia pintar dan rajin belajar, baik dan perhatian, suka menolong teman-temannya. Perfect-lah pokoknya! Makanya gw jatuh cinta banget sama dia. Tapi, pas udah pacaran, duh, keluar deh aslinya. Doi matre banget meen!"
Ck, ck, ck. *geleng-geleng kepala*

Apakah alasan seperti itu juga terjadi kepada kita? Bukankah seharusnya dalam mencintai itu kita juga harus mencintai setiap kekurangan orang yang kita cintai? Kasus Irfan dan Jennifer adalah contoh bagaimana cinta pada permukaan seringkali berakhir pada perpisahan.

Disadari atau tidak, ketika kita jatuh cinta, sosok orang yang kita cintai akan terlihat sangat "WOW" di mata kita. Entahlah dalam bentuk apapun, meski dia lagi ngupil, mungkin akan terlihat "WOW". Tapi itu keterlaluan sih kayanya. -____-

Gw sempat berpikir, apakah konsep mencintai itu diawali atau bahkan berkaitan erat dengan konsep mengagumi. Dari hasil kontemplasi, terpikir bahwa konsep jatuh cinta yang memang erat kaitannya dengan rasa mengagumi. Menurut gw, ketika seseorang jatuh cinta, meskipun eksistensi dari orang yang kita cintai berada setara dengan kita. Tapi dalam konsep rasa, eksistensi orang tersebut berada setingkat atau bahkan lebih di atas kita. Orang yang kita cintai akan terlihat 'lebih' di mata kita.

Tanpa sadar saat kita jatuh cinta, kita menciptakan konsep ideal dari sosok orang yang kita cintai. Dikarenakan rasa suka yang kita miliki, maka setiap gerak-gerik ataupun perilaku orang yang kita suka/cintai akan coba kita perhatikan. Disadari atau tidak, ada dorongan dari dalam diri yang mendorong kita untuk mengetahui jauh lebih dalam tentang orang yang kita suka/cintai tersebut.

Dan apapun gerak-gerik orang yang kita suka itu kadang membuat kita dibutakan oleh apa yang kita lihat dan kita rasa. Jadi, bener dong cinta itu buta?
Eits, sebentar.
Siapa sih yang bilang cinta itu buta?
Menurut gw, Cinta itu abstrak. Dan kompleks malah kalo menurut gw.

Jadi, cinta itu bikin kita buta?
Alah. Dibutakan oleh cinta kali maksudnya?
Wah, kalo itu sih balik lagi ke masing-masing individu.
Yakin dibutakan oleh cinta?
Bukan diri kita sendiri yang justru membutakan diri sendiri hanya karena satu rasa yaitu, cinta?

Irfan, menurut gw, loe terperangkap dalam satu konsep tentang Jennifer yang loe ciptakan sendiri. Loe melihat dia dengan kacamata positif (bukan berarti loe silinder), maksud gw, loe melihat segala apapun tentang Jennifer sebagai sesuatu yang terlihat "WOW", semua terlihat sangat indah di mata loe. Sekalipun loe tau soal kekurangan dia yang pernah loe denger dari temen-temen loe ataupun loe lihat sendiri. Bener nggak? Kalo nggak, yaudahlah ya, dengerin aja apa kata gw.

Loe nembak si Jennifer karena rasa suka atau rasa jatuh cinta yang mendorong loe untuk memiliki dia dengan segala keindahan yang loe lihat. Loe nggak melihat kekurangan dia sebagai sesuatu yang negatif, loe (pinjem istilahnya Bung.Sartre) 'menidakan' segala kekurangan Jennifer yang loe lihat ataupun loe tahu. Sehingga, saat loe berada dalam satu relasi dengan Jennifer dan merasakan ada yang berbeda dari konsep Jennifer yang loe pernah buat, loe merasakan ketidakcocokan itu. *Irfan ngangguk-ngangguk*

Jangan ngangguk-ngangguk aja dong! Nangkep nggak maksud gw?
Inget nggak sama lagu Agnes Monica? Yang dia nyanyi," CINTA INI, KADANG-KADANG TAK ADA LOGIKA!" *dance ala Agnes*

Nah, itu pas tuh sama loe, fan! Loe nggak pake logika loe saat jatuh cinta. Perasaan loe mendominasi diri loe saat jatuh cinta, logika loe jadi nggak kepake karena loe lebih mentingin rasa! Sebenernya sih itu lagu agak gimana juga liriknya, cinta emang punya logika? Duh, keberadaan cinta bukannya abstrak ya?

See? Loe sendiri yang menciptakan perpisahan sejak awal. Loe mencintai seseorang berdasarkan konsep kesempurnaan yang loe buat tentang dia. Rasa, mendominasi diri loe, sampai loe lupa pake logika untuk menyadari kekurangan orang yang loe cintai.

Jauhi deh, konsep cinta permukaan, atau bisa dibilang cinta kulit. Bukan maksudnya loe cinta sama kulit buaya, kulit harimau. Bukan, tapi loe mencintai apa yang terlihat dengan kacamata yang lupa dipasangin gear logika.

Ngomong-ngomong, respon si Jennifer gimana tuh pas loe putusin?
"Dia nangis! Nggak mau putus. Aduh, gimana dong ya? Gw nggak tega juga nih, tapi dia juga hampir membuat aliran dana gw kembang-kempis! Gimana dong bell caranya mutusin dia?!!"
Hadeh. -_____-
Susah. Emang cinta suka bikin cenat-cenut.
Ntar disambung deh obrolan kita.

kajian yang harus dikaji

Cinta.
Apa ada yang salah jika kita mencoba mendalaminya?
Seakan cinta bukan sesuatu yang penting untuk dibahas.

Apakah manusia dapat hidup tanpa cinta?

Jika 'ya' jawabnya, maka jelas sudah cinta pantas sekali untuk dikaji.
Jika 'tidak', maka jelas kebencian pantas untuk dikaji.
Apa lawan cinta selalu benci? *hmm*
Itu nampaknya juga perlu dikaji.

Sempat ada yang menulis,


"The opposite of love is not hate, it's indifference."- Elie Wiesel


Jadi? :)
Renungkan kembali.

Apakah cinta harus selalu memiliki?
Apakah cinta Agape dan Eros harus selalu memiliki relasi?
Apakah cinta ideal itu ada?

Banyak sekali yang harus dikaji.
Sementara ini, ada baiknya saya melihat pandangan setiap orang yang berada di sekitar saya tentang apa itu cinta.

07 December 2010

satu cinta, dua tuhan. mungkinkah?

Tak diterima dan tak berkenan di hadapan Tuhan.
Demikianlah opini yang sering terdengar yang tertuju pada pasangan yang berbeda agama.
Benarkah hubungan yang dilandasi oleh CINTA masih memiliki potensi untuk tidak diakui, diterima, dan diperkenankan di hadapan Tuhan?

Jika memang demikian, berarti ada batasan di dalam cinta.
Ada batasan yang menyekat individu dalam hal mencintai dan dicintai.
Batasan yang tak terlihat namun memiliki kekuatan yang besar, hingga mampu memisahkan dua orang yang saling mencintai. Apa batasan itu?

Mudah menyebutnya, namun apakah semua dapat menerima?
Bukankah agama yang menciptakan batasan dalam hal mencintai dan dicintai?
Jika tidak mencintai atau dicintai dengan orang yang memiliki kepercayaan dan iman yang sama dengan kita, maka hubungan tersebut jelas mustahil untuk dijalani.

Bukankah agama yang menciptakan berbagai norma khusus dalam lingkup iman kepercayaan yang harus dipegang teguh oleh orang-orang yang meyakininya?
Salahkah jika saya katakan agama yang membuat batasan dalam cinta?
Mencintai orang yang berbeda agama seakan menjadi hal yang tabu.
Mengapa?
Karena tidak dimungkinkan dalam satu hubungan adanya dua Tuhan bukan?

Mengapa tidak dimungkinkan?
Bagaimana jika dengan adanya dua Tuhan dalam satu hubungan dapat menciptakan toleransi dan keharmonisan yang lebih baik ketimbang satu Tuhan dalam hubungan?
Semua nampak masih buram dan abu-abu.
Biarlah perlahan saya warnai ketidakjelasan ini.

05 December 2010

Cinta Butuh Pengorbanan

Cinta memerlukan pengorbanan.
(Kata siapa? Kata saya tuh barusan)
Siapa sih yang ngga pernah ngerasain beratnya mengorbankan sesuatu?
Apalagi ini demi cinta. *huff*
Berat banget pastinya.

Tapi apa benar cinta selalu membutuhkan pengorbanan?
Yah, kalau mau dilihat secara jelas, tentu saja pacaran mengeluarkan materi kan?
Uang untuk traktir si pacar, uang untuk ongkos anter-jemput pacar, uang untuk ongkos ketemu pacar, uang buat beli pulsa untuk sms-an atau telpon-telponan sama pacar, dll.
Uang, uang, dan uang. Jelas kan kalau cinta memerlukan pengorbanan? (dalam hal ini uang) :p

Lalu apa pengorbanan dalam cinta hanya sebatas uang saja?
Oh, tentu tidak.
Masih banyak bentuk pengorbanan lain. Apa lagi?
Pengorbanan waktu?

Oh, iya ya. Pengorbanan waktu. Bisa aja akan waktu kita buat pacaran itu bisa kita pakai untuk ngerjain hal-hal lain, misalnya : ngerjain tugas, bantuin mama, nemenin papa, dll.
Atau mungkin kita mengorbankan waktu kita untuk bertemu pacar kita?
Mau dibolak-balik, sama saja kan? Kita rela mengorbankan waktu kita buat cinta.

Apa cuma segitu? Jangan lupa sama pengorbanan rasa!
Pengorbanan rasa? Hmm. Apaan tuh?
Siapa sih yang nggak pernah makan ati? Bukan Ati-Ampela yaa!
Tapi HATI! MAKAN HATI! *ih, hati kok dimakan*
Siapa sih yang nggak pernah makan yang satu ini?
Cuma karena hal sepele, kadang kita harus menelan rasa sakit hati yang disebabkan oleh kekasih hati. *sigh*
Meski ntar baikan lagi, tapi tetap saja kan terkadang kita harus mengorbankan perasaan kita buat orang yang kita cintai?

Pengorbanan rasa ini bisa dalam wujud apa pun.
Bisa juga loh, kamu yang sebenernya nggak suka pakai sepatu high-heels, tapi demi pacar kamu, kamu bela-belain pakai. (padahal kamu lebih nyaman sama sepatu kanvas!):

Jadi, cinta selalu membutuhkan pengorbanan dong ya?
Jika dilihat dari beberapa contoh di atas sih bisa dikatakan demikian.

Namun menurut Erich Fromm, seorang filsuf, kita harus mengerti konsep pengorbanan dalam cinta dengan baik dan benar. Jangan salah loh mengartikan 'cinta itu butuh pengorbanan', menurut Fromm, jangan sampai kata 'pengorbanan' justru menjadi kamuflase untuk kita menutupi penderitaan batin kita dalam hubungan kita dengan si kekasih. Bisa jadi karena kita meyakini bahwa cinta membutuhkan pengorbanan, maka penderitaan yang kita alami kita tanggung sendiri dengan dalih tersebut. Yang akhirnya bisa saja membuat kita tersiksa sendiri. Ntar Cinta Ini Membunuhku lagi.

Jadi jangan sampai menyalahartikan kata 'pengorbanan' dalam cinta ya.
Jangan sampai karena kata tersebut, kita malah menjadi individu yang bodoh.
Kalau ada yang bilang,"Cinta itu buta", kamu nggak akan dibuat buta asalkan kamu selalu buka mata dan pakai logika kamu dalam menjalin suatu hubungan.

Yah, memang lika-liku cinta tidak akan pernah habis dimakan waktu. *tsah*
Maksudnya tidak pernah ada waktu yang cukup untuk membahas soal cinta.
Ada saja yang bisa dibicarakan soal hal satu ini.
Untuk soal yang satu ini (pengorbanan) sampai sini dulu deh.
Ntar dibahas lagi kapan-kapan. Hihihihi.

Selamat membaca, silakan berkomentar.
Mari berdiskusi. :)

Referensi : Dewi, Saras. 2009. Cinta Bukan Cokelat. Kanisius: Yogyakarta

01 December 2010

PMPK assignment. *sigh

Why do You create us differently if You only want to be worshipped in one way?
“Cina and Annisa love God and God loves them both.

But Cina and Annisa cannot love each other because they call God by different name."

-Cin(T)a: God is a director. (2009)

Tahun 2009 perfilman indie Indonesia dikejutkan dengan hadirnya film independen yang mengangkat tema perbedaan agama dalam sebuah hubungan yang terjalin antara seorang pria dan perempuan yang memiliki perbedaan usia dan latar belakang sosial-budaya. Cina (18 tahun), keturunan cina-medan, adalah seorang mahasiswa baru jurusan arsitektur yang bertemu dengan Annisa (24 tahun), berasal dari etnis jawa, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur yang tugas akhirnya terhambat karena karirnya di dunia film. Cina dan Annisa bertemu secara tidak sengaja dan ketidaksengajaan tersebut membuat mereka menjalin hubungan pertemanan (yang lalu berkembang menjadi rasa cinta) meski akhirnya harus berpisah. Cina yang beragama Kristen, Annisa yang beragama Islam, saling mencintai satu sama lain, namun mereka harus berpisah hanya karena mereka mencintai Tuhan yang berbeda.

Film indie ini mendapat sambutan hangat dari pecinta film (indie) Indonesia. Para film-maker papan atas Indonesia pun memberikan apresiasi pada film ini. Tema yang diangkat memang terkesan klise, yaitu cinta, namun di sini diangkat pula isu perbedaan agama yang hadir dalam kisah cinta tersebut. Penulisan judul film yang unik, cin(T)a, memiliki daya tarik tersendiri. Huruf ‘T’ besar yang ada di dalam kurung merupakan Tuhan, tokoh sentral yang menentukan alur cerita film ini. Dialog cerdas mengenai argumen tentang Tuhan (yang dilontarkan oleh Cina dan Annisa) menjadi nilai plus tersendiri dalam film ini, bagaimana dua agama yang diwakili dua tokoh melihat problematika hidup, termasuk persoalan cinta. Film ini mungkin saja menjadi representasi dari fenomena cinta dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Berdasarkan pengamatan penulis dari jejaring media sosial, banyak orang yang mengapresiasi film ini dikarenakan memiliki latar belakang kisah cinta yang sama dengan apa yang ada dalam film ini.

Jika dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu hanya karena perbedaan agama, maka apa itu cinta? Pertanyaan mendasar ini mengusik benak penulis saat menonton film tersebut. Jika dua individu manusia yang saling mencintai tidak dapat bersatu apakah masih dapat dikatakan bahwa ada cinta diantara mereka? Dan bagaimana konsep cinta harus tetap dipercaya meski adanya pihak ketiga yang menjadi alasan ketidakbersatuan dua individu yang saling mencintai (dalam hal ini, pihak ketiga adalah Tuhan)?

Ada sudut pandang yang berbeda dari setiap individu dalam memahami arti kata dan konsep cinta, menurut Simone De Beauvoir, perbedaan situasi eksistensial antara perempuan dan laki-laki merupakan faktor bagaimana seorang perempuan dan laki-laki memahami konsep cinta di antara mereka. Dengan adanya perbedaan paham mengenai konsep cinta, apakah memungkinkan manusia bersatu dalam satu relasi atau ikatan cinta? Erich Fromm meyakini bahwa cinta merupakan hasrat yang paling memuaskan kebutuhan hasrat manusia yang tak terbendung. Dan menurutnya, cinta merupakan bentuk bersatunya individu dengan individu di luar dirinya.

Film cin(T)a merepresentasikan kisah cinta yang tidak dapat menemukan win-win-solution dalam pasangan berbeda agama. Larangan dan hal ke-tabu-an dari ajaran agama, seakan menjadi sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat dalam melihat pasangan berbeda agama. Tidak direstui, tidak diterima, tidak berkenan di hadapan Tuhan, demikianlah opini umum masyarakat pada pasangan yang berbeda agama. Mencintai Tuhan yang berbeda seakan menjadi penghalang bagi dua individu yang saling mencintai untuk bersatu. Pilihan eksistensial terlibat dalam hal ini, manakah yang harus dipilih untuk dicintai? Tuhan yang kita cintai atau individu lain yang kita cintai yang mencintai Tuhan yang berbeda dengan kita?




09 September 2010

cinta tak harus memiliki (?)

jika cinta tidak harus memiliki. jadi apa arti cinta itu?

jika cinta harus memiliki. jadi apa arti cinta itu?

hanya sebatas 'hak milik'-kah?

jadi masalahnya cinta itu apa ya?

dua orang menjadi satu karena suatu rasa yang sama-sama dimiliki dan dirasa kah?

karena ketika dua orang bilang saling mencintai, maka ada satu keterikatan diantara dua orang itu.

dan tanpa disadari yang satu
akan merasa jadi milik yang lain, begitu juga sebaliknya. jadi sebenarnya dari dulu konsep cinta sudah dekat dengan kata 'memiliki' ya?
Tulisan di atas merupakan salah satu post notes di fb saya. Sempat merasa terdistraksi dengan kalimat,"cinta tak harus memiliki" maka saya menulis notes di atas.

Kenapa tiba-tiba ada konsep memiliki? Kenapa tiba-tiba cinta saya kaitkan dengan kepemilikkan? Bukankah dalam satu hubungan yang tercipta karena cinta memang akan muncul konsep kepemilikkan? konsep keterikatan?
Bagaimana mungkin? yah jelas, status pacaran, pernikahan, itu membuktikan keterikatan antara dua manusia yang saling mencintai.
Keterikatan jelas akan menimbulkan 'hak milik'.

Simpelnya,

Si A pacaran sama si B. Suatu hari, A bertemu dengan C.

C : "eh gw denger loe udah pacaran sekarang?"

A : *shy-shy-cat* "iya"

C : "sama siapa?"

A : "sama si B"

C : "oh jadi sekarang loe pacarnya si B"

Dari obrolan singkat si A dan si C, ada konsep yang tersampaikan. Si A pacarnya si B. Secara tidak langsung, tersirat, si A itu sekarang miliknya si B, si B itu sekarang miliknya si A. Kenapa begitu? Yah kan mereka pacaran coy. Lah terus kenapa kalau mereka pacaran? Yah berarti mereka saling memiliki dalam ikatan cinta coy.

Saling memiliki?

Jadi orang-orang dalam suatu hubungan itu saling memiliki dong ya? (dengan/tanpa cinta?)

Jadi jelas kalimat, "cinta tak harus memiliki" itu agak kurang bisa direalisasikan (mungkin). Pastinya hasrat manusia untuk tidak memiliki apa yang diinginkan agak sulit untuk dibendung.

Namun memiliki dalam bentuk konsep? Jelas itu mungkin sekali untuk dilakukan. Makanya kan ada yang disebut dengan Cinta Platonis.
Tapi apakah mungkin sanggup? Mencintai konsep belaka?

Biarlah angan dan nalar kita menjawab menurut apa yang kita yakini.